" Sipir Penjara "
Seorang sipir muda bertalenta dan penuh ambisius — itu adalah kamu. Menjaga para tahanan, berbaur dengan mereka, sudah bukan hal yang asing bagi diri mu.
Kamu terkenal akan kepribadian supel, juga mudah berbaur, membuat banyak narapidana punya hubungan dekat dengan mu. Namun, ada satu terpidana yang bahkan wajahnya saja kamu tidak tau rupanya.
Yang kamu tau hanya namanya — Nishimura Riki, terpidana 20 tahun kurungan penjara, atas kasus penggelapan uang serta penyeludupan narkotika. Dunia luar biasa menyebutnya mafia kelas kakap, yang bergerak licin dan selalu terorganisir.
Entah mengapa setiap kali kamu berdiri didepan pintu tahanannya, kamu selalu ingin tau, apa yang sekiranya pria itu lakukan di dalam ruangan sempit, minim pencahayaan dan hanya seorang diri.
“Ini makan malam untuk mu,” ucap mu dari balik pintu, merunduk sesaat untuk mendorong piring berisi makanan kedalam sel tahanan.
Tak ada jawaban, kamu hanya mendengar piring logam itu diseret menjauh, “... boleh aku bertanya satu hal pada mu?” tanya mu, mencoba memberanikan diri.
Masih tak ada jawaban, tetapi kamu masih punya keinginan untuk tau banyak hal soal Riki, “besok ada beberapa napi yang akan bebas, apa kau mau dialihkan kekamar bersama?” kamu masih menunggu jawabannya.
“Aku tidak ingin dipindahkan,”
Suara bariton itu akhirnya terdengar, kamu jadi tau satu hal bahwa Riki, tidak punya keinginan untuk keluar dari bilik isolasi itu. “Kenapa?, apa kau tidak takut kesepian?” tanya mu lagi.
“Apa yang kau tau soal kesepian?, hidupmu penuh dengan warna, apa mungkin bisa mengerti yang namanya sunyi?”
Kamu terdiam sesaat, “aku tau, dulu kesepian adalah teman ku. Jadi, bisakah kita berteman?” kamu selalu punya cara untuk menuntaskan rasa penasaran mu.
“Tidak ada seseorang yang bisa berteman tanpa pernah bertemu, aku yakin kau hanya mencari sensasi,”
“Aku yang punya akses untuk semua ruangan, termasuk diri mu. Jika kau inginkan hal itu, aku bisa mengabulkannya untuk beberapa saat,”
Niat awal mu hanya untuk kebaikan, kamu selalu memikirkan bagaimana kondisi mental Riki, dia pasti sangat depresi karena terisolasi sampai 20 tahun kedepan.
Maka mungkin saja dengan ikatan pertemanan, kamu bisa perlahan-lahan mengisi keseharian pria itu.
“Jika berhasil, kita berteman mulai malam ini,” ujarnya, memberi mu tantangan besar, untuk membawakan kunci tahanan milik Riki.
“Sepakat,”
***
Entah keputusan bodoh macam apa, kamu mencuri kunci pintu tahanan yang disimpan oleh serif Heeseung diruangannya. Lalu kembali untuk membuka pintu dari narapidana paling berbahaya.
clack!
Pintu yang sudah beberapa tahun terkunci itu, akhirnya dapat terbuka...
“Nishimura Riki?”
Blam!
“Ummph!! —”
Tepat saat kamu masuk, seseorang dari balik pintu kembali mendorongnya hingga tertutup rapat. Kamu yang terkejut bahkan tak sempat berteriak, sebab seorang pria jangkung kini tengah mencium mu.
Ciumannya begitu dalam, ganas, dan membara. Dalam sekejap kamu bahkan sudah mulai kewalahan, “umgh...” erangan yang lebih berat terdengar dari sang pria.
Mata mu akhirnya menemukan jawaban ketika melihat nama pengenal dari tahanan tersebut — ya, Nishimura Riki lah yang kini tengah mencium mu.
“E’nk stophh!”
Kamu mendorong dadanya hingga ciuman kalian lerai, dapat kamu tatap manik sayu dengan surai berantakan itu, “be-beraninya kau!” sentak mu tegas sebagai seorang sipir penjara.
Namun dia tak bergeming, hanya tersenyum dengan guratan yang sulit kamu mengerti, “selamat datang ibu sipir, inilah tempat ku dan bagaimana aku menyambut mu,” ujarnya angkuh, menatap mu tanpa segan.
“Pantas saja serif mengusung mu untuk tinggal seorang diri, ternyata kau benar-benar penjahat ulung,”
“Lalu apakah beberapa menit yang lalu, kau beranggapan aku ini pemuda biasa yang kesepian?”
Kamu mulai mendapatkan sedikit banyaknya gambaran, tentang apa dan mengapa Riki bisa jadi tahanan yang terisolasi. “Waktu mu habis, aku tidak akan berbicara dengan mu lagi,” kamu hendak melangkah keluar membuka pintu itu.
Namun, dengan cekatan Riki menarik lengan mu begitu kuat, lalu membuat kamu terhempas kesamping tepat pada ranjang sempit itu.
BRAKH!!
blam!
Pintu itu kembali tertutup kencang, saat Riki menghempaskan mu kekasur, kamu tanpa sengaja menjatuhkan kunci itu kelantai. “Lepaskan aku!” kamu mencoba memberontak tetapi tenaga mu kalah jauh.
“Selama ini aku hanya bisa mendengar suara mu dari luar sana, tetapi saat ini, justru aku bisa menyentuh mu,” ucapnya tanpa ragu, mengukung mu diatas ranjang itu.
“Jangan macam-macam!, aku seorang sipir dan kan narapidana, jika kau berani mengambil langkah buruk, pengadilan bisa memberatkan hukuman mu!”
“Sstt... lalu bagaimana dengan mu?, bukankah kau baru saja melanggar aturan penjara?”
Itu benar, jika para penjaga lain tau bahwa kamu telah membuka pintu dari salah satu napi dan masuk tanpa izin, maka bisa saja kamu juga akan dipecat dari pekerjaan ini.
Kamu tercekat tak tau harus bagaimana, “apa mau mu?” tanya mu cepat, agar bisa bebas dari ancaman Riki, tanpa ketahuan atasan mu.
“Satu malam yang hangat, sepakat?”
Karena tak ingin sampai dipecat dari pekerjaan, dengan bodohnya kamu setuju, “lakukan...” dari kalimat itulah kewarasan mu semakin terkikis.
Kamu dapat melihat pria jangkung itu tersenyum tipis sebelum mencium mu lagi, maka terjadilah adegan panas yang bukan didasari akan cinta, melainkan pelepasan nafsu semata.
Perlahan Riki melerai pakaian kerja mu, mencumbu mu begitu kasar, karena sesungguhnya dia membutuhkan narkotika, tetapi karena tidak ada, maka kamu lah yang kini menjadi candunya.
“Haah engh...” nafas mu rasa tercekat, karena Riki bermain begitu agresif, dia meremas dada mu, memberikan tanda-tanda ruam di sekujur leher mu, hingga bahkan kakinya dengan sengaja menggesek milik mu dari bawah sana.
“Umchh ukh susu ibu sipir ternyata enak juga ya, apa aku bisa jadi pelanggan setia mu?”
Tanyanya sesaat setelah dia menghisap kedua buah dada mu, sedangkan kamu begitu enggan untuk mengucapkan sepatah kata pun. “K-kau memang tidak layak dikasihani,” ujar mu kesal karena kini tengah disetubuhi oleh tahanan mu sendiri.
“Aku tidak pernah memintanya, kau yang datang sendiri. Eummh ssllph...” dalam percakapan singkat itu, Riki kembali menghisap dada mu, memainkannya hingga ia puas.
Namun, kamu juga tak bisa berbohong, permainan yang Riki perbuat, bisa membuat mu perlahan-lahan menikmatinya, “Ha’aah eggh!” kamu sampai menggigit bibir mu sendiri untuk meredam suara.
Hingga pergulatan kalian semakin panas, Riki melepaskan seluruh pakaian mu hingga tak bersisa sehelai pun, dia diam sejenak untuk memandang. “Dilain waktu aku bisa pamer dengan tahanan yang lain, prestasi ku saat ini adalah tidur bersama ibu sipir,” ujarnya, kamu tau itu semacam kata-kata hinaan.
Kamu enggan menatap matanya, hingga dia benar-benar mengeluarkan kejantanannya dari celana tahanan lusuh yang ia pakai. Tempat ini memang remang-remang, tapi kamu masih bisa melihat siluet sosok Riki yang ternyata rupawan dan juga jangan lupakan kejantanannya yang perkasa.
Mata mu terkunci rapat saat Riki menyingkapkan kedua belah kaki mu, dia akan bersiap masuk, “uugkh!, sshh...” lenguhnya saat dia memasukkan miliknya kedalam vagina mu.
“A’aah pe-perlahan Riki!”
Mata mu yang tadinya terpejam kini terbuka lebar oleh karena hentakan yang datang secara tiba-tiba, namun namanya tak saling kenal atau pun cinta, Riki mengabaikan perkataan mu.
Dia tidak peduli apakah kamu siap atau tidak, yang jelas saat ini dia sudah bergerak menghentak milik mu, sampai tubuh mu gelenjotan tak karuan.
“Haah uhh e-enak juga anjing!” nyatanya Riki tak pernah menduga bahwa vagina dari wanita penjaga sipir penjaranya, tak kalah legit serta sempit.
“A’aa auhh Nishimura!!”
Kamu berteriak tak mampu menahan gejolak dari genjotan sang pria yang begitu cepat serta kasar, ranjang yang menopang tubuh kalian pun bahkan berdecit berulang kali.
Suasana penjara dimalam hari memang lah sunyi, diantara banyaknya narapidana yang tengah tertidur lelap, mereka tidak menyadari bahwa sang sipir yang kerap kali memberikan mereka hukuman, kini justru mendapat hukuman dengan cara dicabuli oleh narapidananya sendiri.
“Oh shit, enak bangethh bu sipir...”
ONESHOT



dilike ges jgn dibaca doang, nanti author ngambek 🤭
WHAT WHAT AN NIH, ANJAAAYY MASIH ANGET YE