" Papa Muda 17 "
Ketika mentari terbit kamu terbangun, merasakan sesuatu yang hangat dan juga kokoh mengukung mu rapat-rapat, terkesiap sesaat lalu keterkejutan mengisi relung mu.
“AAAA!!”
BGUH!
“A’h au sshh...”
Suara dentuman terdengar setelah kamu dengan reflek mendorong tubuh Heeseung terlalu kuat hingga pria yang masih dibubuhi kantuk itu terjatuh dari kasur.
Kamu terkejut saat sadar telah menyakiti Heeseung, “papa!, duh maaf,” ucap mu ketika sadar dan mencoba membantu Heeseung untuk berdiri.
“Duh kenapa papa didorong begitu?” tanyanya bingung sambil mencoba mengumpulkan kesadarannya.
“Eum maaf pa, aku kaget. Ki-kirain siapa tadi yang pe-peluk,”
Sungguh kamu gugup karena ternyata Heeseung tidur dengan memeluk mu semalam suntuk, “yasudah papa minta maaf ya, lain kali tidak seperti itu lagi. Saya yang salah,” Heeseung hendak beranjak untuk berbenah diri.
“Bu-bukan gitu pa, bukan berarti gak suka. Kan cuma kaget,” ucap mu mencoba meyakinkan Heeseung, tetapi pria itu tetap beranjak ke kamar mandi tanpa mengatakan apapun lagi.
Padahal sebenarnya yang kamu tak tau, Heeseung tengah menahan senyumannya ketika kamu menjelaskan alasannya.
***
Sampai disekolah kamu kembali lagi bertemu dengan gadis yang sama saat ditoilet kemarin, dia mendekat dengan tatapan yang tak mampu kamu baca.
“Udah tau gue mau deketin Sunghoon, tapi lo malah pulang bareng dia kemarin,” ujarnya tiba-tiba ketika kalian berpapasan.
“Iya, ada masalah?, gua ngojek sama dia karena gak dijemput kemarin, bukan nebeng doang,” ungkap mu lantang, sebab semalam kamu telah memberikan sejumlah transferan uang pada Sunghoon.
Tapi tatapannya tetap curiga pada mu, “nih buktinya...” kamu menujukan bukti transaksi antara dirimu dan Sunghoon semalam. “... udah kan?, gua banyak kerjaan,” kamu berlalu begitu saja, melaju kearah ruangan OSIS karena kamu juga bagian dari organisasi.
Sampai disana kamu duduk dan mengikuti rapat yang diketuai oleh Jungwon, kalian semua sepakat untuk menyelenggarakan festival hiburan dimalam hari saat ujian berakhir nanti.
Akan ada banyak kemeriahan yang direncanakan seperti bernyanyi, menari, bahkan sampai petunjukkan drama. Beberapa teman peremuan mu mengajak mu untuk bergabung mengikuti kelompok menari.
Itu membuat kamu sedikit ragu, karena kamu tidak terlalu bisa menari, “duh gimana ya, gua orangnya gak jago-jago banget nari, takut jadi kacau kalau ada gua,” kamu tak punya banyak kepercayaan diri untuk bergabung sebagai anggota tari.
“Engga lah, kitakan nanti belajar sama-sama, pasti nanti bisa kok... mau ya?” beberapa dari mereka berbinar, mengharap kamu untuk bergabung.
“Um, iya deh. Gua bakal belajar nari entar, tetapin aja koreografinya kayak gimana,”
Tim lengkap dan semua orang mendapat bagian mereka masing-masing, kamu cukup takut tak bisa melakukannya. Tetapi untuk saat ini sepertinya lebih baik untuk diri mu fokus pada ujian.
***
Kini dikantin kamu duduk berhadap-hadapan dengan Sunghoon menyantap semangkok bakso hangat yang kuah kaldunya beraroma semerbak, sungguh menggugah selera terlebih kalian sangat lapar.
“Gua denger-denger lo gabung grup tari ya?, emang bisa cil?” tanyanya pada mu yang sudah lebih dulu menatap malas Sunghoon.
“Ya bisa lah, justru lo tuh yang patut dipertanyakan, gabung ke grup drama, emang bisa ekting apaan lu?”
“Eh jangan ngeremehin, bakat drama gua ini gak main-main. Mau ekting nangis, senyum, marah apa lagi yang melas-melas gitu, jago banget gua,”
“Iye, melas-melas pas lu minjem duit tuh cocok banget ambil peran azab, biar kapok gak minjem duit orang muluk,”
Balasan mu begitu menohok bagi Sunghoon karena dia memang kerap kali meminjam uang dari mu, entah untuk keperluan apa saja. “Jangan dong, orang gua bakal meranin tokoh utama, lu bakal liat nanti pas gua bersinar dipanggung,”
Sunghoon memang tipikal pemuda yang percaya diri, dia yakin betul pasti bisa menampilkan yang terbaik, bermodalkan dengan wajahnya yang tampan.
“Iya dah iya, semangat buat lu deh pokoknya,”
“Lo juga, kanjeng ratu... oh iya, semalem lo jadi belajar?” tanya Sunghoon yang tidak bisa menemani kamu belajar semalam,
karena dia sibuk dengan urusan gamenya.
“Ya jadi, ngapain gua gak jadi cuma karena lo lagi mabar ML,”
“Kali aja kan, lo bakal pusing karena kan biasanya kita suka bahas soal bareng-bareng,” kalian berbincang terus hingga bakso itu habis dan tersisa setengah cangkir es saja.
Ucapan Sunghoon membuat mu mengingat kejadian semalam, dimana Heeseung terus mengajarkan kamu banyak hal, hingga rasanya senyum pun enggan luntur, “gua bahasnya sama papa, dia ajarin semuanya. Jangan iri ya kalau tahun ini nilai gua bakal naik drastis,” pamer mu terhadap Sunghoon.
“He’eleh awas aja tiba-tiba nanti noleh, ‘Hoon, Hoon, nomer lima apaan?’ gua geplak ya kepala lu,”
“Tetep kalau gua kepepet lu kudu bantuin gua,”
“Aman dah selagi ada ininya...”
Jamarinya menjentik jahil, mengisyaratkan tarik tunai, seperti negosiasi. “Duit muluk, curiga gua kelilit pinjol lu ya?” mendengar balasan mu tentu saja Sunghoon tak terima.
“Kagak anying, gua lagi butuh duit buat top up ML, ada skin inceran gua,”
“Alah buang-buang duit bego, emang kayak gimana bentukannya?”
“Begini, gua pengen banget Angela Sanrio...”
“Lo udah tua bangka, Sunghoon!”
***
Kamu pulang menyentuh langit malam hari ini karena masih menyempatkan waktu untuk latihan futsal, selesai bersih-bersih dan mencoba untuk berdandan didepan cermin, tiba-tiba saja kamu merasa aneh dengan lampu kamar mu, terlihat berkedip berulang kali dan cahayanya menjadi redup.
“Ini kenapa lampunya?, apa rusak kali ya?” kamu bermonolog sebelum akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan dengan Heeseung.
Kamu beranjak untuk menemui Heeseung yang ternyata sedang ada di ruangan kerjanya, sesaat kamu membuka pintu dapat kamu lihat pria yang terlihat lelah itu.
“Eum papa?”
Panggil mu dari sudut pintu, melihat kamu yang tiba-tiba diruangan kerjanya, Heeseung seolah gelagapan, dia menyembunyikan sesuatu dibawah mejanya. “ah?, i-iya sayang kenapa?, ada apa cantik?” tanya nya gelabakan bagai yang takut ketahuan.
Kamu tidak curiga sama sekali, hanya terus mendekatinya, “papa lagi sibuk ya?, ka-kalau gitu nanti aja pa,” kamu tidak mau menganggu Heeseung jika dia masih bergelut dalam pekerjaannya.
“Engga, papa gak sibuk ini. Udah mau selesai kerjaannya, sini sayangnya papa, mau apa hm?”
Disaat itu lah kamu mendekat dan Heeseung senantiasa menunggu apa yang kamu mau, “itu pa, lampu dikamar aku kayaknya rusak deh, dari tadi kedip-kedip terus,” ucap mu menjelaskan apa yang kamu lihat tadi.
“Duh ini mungkin udah lama lampunya, belum papa ganti-ganti. Yaudah kita benerin sekarang,”
Kamu mengangguk, mengikuti jalan Heeseung dari belakang, dia pergi ke gudang membawa sebuah tangga dan lampu bohlam yang baru. Tetapi rasanya ada yang berbeda dari Heeseung malam ini, hawa tubuh pria itu terasa panas sekali.
Kamu juga dapat melihat telinganya yang memerah tanpa sebab, “em papa demam ya?, kok aku ngerasanya papa lagi gak baik aja?” kamu menyampaikan apa yang kamu rasakan ketika berada dekat dengan Heeseung saat ini.
Pria itu menoleh sesaat dia akan membuka pintu kamar mu, “engga demam kok, kenapa kamu mikirnya gitu?” dia mulai mendirikan tangga tepat dibawah lampu yang rusak itu.
“Papa kayak beda aja keliatannya,”
Heeseung hanya terkekeh, “ini pegang dulu bohlamnya, papa mau naik keatas sana,” dia beranjak naik keatas menggunakan tangga, berniatan melepas lampu yang sudah rusak.
“Nanti coba lihat dicermin, muka papa merah-merah tauk, terus rasanya kayak panas gitu hawanya,”
Jujur saja analisis mu membuat Heeseung terkejut, sampai kakinya jadi goyah diatas sana. “E-eh papa, awas nanti jatoh,” kamu panik dari bawah karena tangga itu mulai bergetar terus menerus.
“Iya sayang, tapi coba kamu lihat dibawah ada yang salah gak itu sama tangganya, kok goyang-goyang begitu perasaan papa,”
Heeseung sibuk melepas bohlam itu, sedangkan kamu celingukan dari bawah apakah tangga ini kokoh dari segala sisi, namun sebelun kamu sempat menyadari hal itu, segalanya terjadi.
BRAKH!!
Tepat saat Heeseung melepaskan lampu rusak itu, tangganya ambruk akibat salah satu baut yang tak lagi kencang terlepas saat menanggung berat tubuh Heeseung.
“A’akh!”
“Au sa-sakit,”
Kalian berdua sama-sama meringis, hanya tangga itu yang diam setelah jatuh, Heeseung jatuh tertimpa tangga dan kamu yang seharusnya bisa menolong Heeseung malah ikut terjatuh karena berat tubuh pria itu kalah dari mu.
“Yaampun sayang, duh maafin saya,” Heeseung sadar dia menimpa tubuh mu, tetapi semuanya terlihat gelap dia tidak tau persis posisinya dan diri mu saat ini.
“Ga-gapapa pa, eumh,”
Suara mu terdengar lemah, Heeseung hanya merasakan sakit dibagian kakinya karena tertimpa tangga tetapi yang lainnya terasa empuk, bahkan Heeseung dapat merasakan dibawah tangannya seperti ada matras empuk yang membuat dia tidak sakit.
“Sebentar, ini mau digeser dulu tangganya nimpa kaki,” disaat pergerakan-pergerakan itu lah sensasi yang aneh mulai terasa, di ruangan gelap ini kalian sama-sama tidak tau, tapi lama-kelamaan rasanya begitu panas.
“E-eumhh pa —”
Kamu mencoba menyadarkan Heeseung akan sesuatu yang sensitif telah pria itu sentuh, kamu malu disatu sisi, tapi disisi lain rasanya sangat aneh.
“Iya cantik kenapa?, sakit ya sayang?... sebentar ini kaki papa jadi kena tangganya,”
Setelah berusaha Heeseung melempar begitu saja tangga yang tadi menimpa kakinya dengan satu tangan saja, yang satu lagi bertahan kukuh pada sesuatu yang dia pikir itu bohlam.
“Enh papa... tangannya jangan disana,”
Kamu mencoba memberi tahu Heeseung tapi pria itu masih tak mengerti, “tangan?, kenapa tangan papa?...” disaat dia mulai fokus pada apa yang dia genggam ditangan kirinya, Heeseung sempat merasakan tekstur itu, dia heran mengapa bohlam lampu yang ia pegang jadi begitu lembut dan terasa kenyal.
“Gak boleh umh... remes-remes pa,” ucapan abstrak mu akhirnya menyadarkan otak Heeseung yang konslet saat ini.
“Hah, astaga... ma-maaf sayang, papa gak berlamaksud begitu,”
Ya, lengan kiri Heeseung tidak menggenggam bohlam melainkan payudara sebelah kirimu, rasanya sungguh malu, tetapi kamu bisa merasakan sentuhan hangat itu dari Heeseung.
Kalian sempat bertatap-tatapan sejenak walau tidak terlihat jelas tetapi masih ada samar-samar karena penerangan dari dari luar, “he’um...” ingin memalingkan wajah dari Heeseung tetapi kamu tak sanggup, bila harus mengabaikan wajah pria itu yang kini terlihat sungguh dekat.
Heeseung menyingkirkan lengannya tetapi tidak dengan tubuhnya, dia masih berada atas menimpa tubuh kecil mu, sesuatu gejolak besar timbul dalam diri Heeseung, perasaan menggebu-gebu seperti kehangatan yang tak bisa dibantah.
“Sayang —” dia memejamkan matanya beralih memeluk mu begitu erat secara spontan, Heeseung tidak bisa manahan dirinya untuk tidak memeluk mu, banyak keinginan dalam diri pria itulah yang mendorongnya untuk tetap didekat mu.
“Eh?, kenapa papa?”
Kamu dapat mengusap surai pria itu yang lebat, merasakan kening dan sekujur tubuhnya terasa panas, “tidak, papa mau begini dulu,” ungkapnya tak mau beranjak walau hanya sedepa.
Sebenarnya rangsangan ini juga datang oleh karena Heeseung sempat minum beberapa taguk alkohol yang ia konsumsi, itu dia dapatkan dari Jay, sebagai hadiahnya sepulang dari Bali.
Pria itu merasa sangat lelah hari ini karena harus mengurus banyak proyek dalam satu waktu, pikirannya terasa begitu berat, hingga Heeseung memutuskan untuk minum beberapa tegak.
Hanya untuk meringankan sedikit beban pikirannya, “papa sakit em?, kenapa gak bilang sama aku?” kamu masih berpikir tubuh Heeseung terasa panas karena demam padahal sebenarnya pria itu sedang dibawah pengaruh alkohol.
“Gak sakit sayang, papa cuma mau deket kamu,”
Ucapnya setengah berbisik, karena bicara dalam jarak yang dekat, kamu bisa mencium aroma asing dari bibirnya. Sesuatu yang tidak pernah kamu kecap atau pula sentuh, kamu tidak mengerti tetapi tercium aneh.
“Papa habis minum apa?, kok aromanya nyengat banget,” kamu kembali bertanya tetapi Heeseung tidak menjawabnya, dia justru mengusakan batang hidungnya yang lancip diarea perpotongan leher mu.
Sesaat hanya endusan samar terasa tetapi lama kelamaan berubah menjadi sebuah kecupan, ya... Heeseung mengecupi leher mu, wajahnya bersembunyi disana dan lengan kokohnya memeluk mu begitu erat.
“Pa-papa?...”
“Eum much... why baby?”
Nada tanyanya begitu berbeda, Heeseung seolah telah hanyut dalam dunianya sendiri, “kenapa cium-cium, papa nakal ini,” kamu ingin menyadarkannya tetapi Heeseung tetap melakukan hal itu, tubunya yang gelisah hanya menginginkan kenyamanan.
Bukannya menjawab pertanyaan mu, Heeseung malah beralih mendaratkan kecupannya tepat dibibir mu, sontak membuat kamu terkejut bukan main.
“Pa?... hey, papa sayang?, papa baik aja kan?” kamu bertanya takut bila Heeseung memang benar lagi sakit atau ada sesuatu yang dia tutupi. “Coba denger dulu, papa kok jadi gak konsen gini,” kamu mencoba menangkup wajah Heeseung diantara kegelapan ini.
“Eumh kan sudah bilang, gapapa,”
Kamu mengehela nafas sebab Heeseung tidak mau jujur, “okey, setidaknya dipasang dulu ganteng ini bohlamnya, kamar aku gelap ini gak ada lampunya,” ucap mu yang mulai jengah dengan suasana gelap ini.
“Besok papa telepon tukang reparasi ya, kamu bobo aja dikamar papa,”
“Eh?...”
Belum sempat mengatakan apapun lagi, kamu terkejut karena Heeseung tiba-tiba saja menggendong tubuh mu dalam langkahnya yang tertatih-tatih, bahkan kamu sendiri takut akan jatuh lagi.
“A-aku bisa jalan sendiri pa, papa capek nanti gendong aku gini,”
“Umh iya, rasanya kok kepala saya pusing sekali ini, padahal tadi tidak seperti ini,”
Beberapa menit kemudian Heeseung mulai merasa tubuhnya yang terlampau panas, kepalanya pusing dan seluruh pemikirannya hilang diatas awan-awan.
“Yaudah turunin aja pa, supaya aku bisa bantu papa juga,”
“Gak, masih sanggup ini...”
Benar saja Heeseung keras kepala sekali, untungnya dia sampai ditempat dengan selamat tanpa cidera, pria itu menidurkan mu tepat diatas ranjangnya sedangkan dapat kamu lihat, Heeseung melepaskan beberapa kancing kemejanya.
“Pa?, ke-kenapa?”
Tanpa banyak bicara Heeseung meneluk mu, menarik mu begitu dekat pada tubuhnya, kembali lagi dia ulangi hal yang sama merundukan wajahnya kedalam ceruk leher mu, lalu mengecupnya seperti tadi.
Sangat lembut juga hati-hati, kamu dapat merasakan bibir tipisnya yang sedikit kering, membubuhi kecupan di leher mu. “Emmh pa... papa kayak orang mabuk,” ucap mu ketika merasakan pergerakan Heeseung yang mulai intens.
“Em se-sedikit sayang,”
Jawaban itu lah akhirnya menjadi petunjuk kenapa Heeseung terlihat sangat gelisah saat ini, “yaampun pa, sedikit kok bisa bikin badan panas begini,” ucapan mu tertahan kala Heeseung mendongak.
Memberi mu tatapan sayu yang begitu menggoda, “i wanna kiss you, baby... please,” matanya benar-benar redup dan manis, kamu dapat menangkap kegelisahan itu dari wajah Heeseung.
Dia merasa sangat tersiksa juga gelisah, “... pleasee,” sambungnya memohon, kamu yang mencintai dia lebih dari apa pun tak akan tega melihatnya memohon.
“Y-ya, come on,”
Detik itu lah kamu diterjang bibir sang pria, Heeseung mengukung tubuh mu rapat-rapat mencium mu begitu sensual juga dalam, bibirnya yang tipis juga kering kini perlahan terasa lembab. Lidahnya juga bermain masuk kedalam, memberikan kecapan-kecapan panas didalam mulut mu.
“Eumph dad —!”
Nafasmu benar-benar tercekat, karena tidak terbiasa berciuman, kamu tidak tau cara yang benar, hanya Heeseung yang kini nalurinya yang perlu kamu ikuti. “Ompph... much, eum,” suara kecapan bibir pria itu terdengar jelas, seperti ada nada gairah yang tidak bisa kamu jelaskan.
“Eughh eu’nh!”
Dada mu kian terasa sesak tetapi Heeseung masih mencium mu, hingga kamu mencoba membuat dia sadar dengan menepuk dadanya, ketika itu ciuman panas kalian lerai.
“Haa’ah... uh,” kamu dan dia sama-sama menarik nafas, tatapan kalian kembali bertemu dalam kebuntuan, sungguh terasa aneh tetapi jauh didalam lubuk hati kalian berdua, ingin tetap melanjutkannya.
“Manis sayang, papa suka bibir kamu,” ucapan itu terdengar seperti mimpi tetapi itu lah yang saat ini Heeseung ucapkan, dia beralih kembali merunduk, menyembunyikan wajahnya lagi dibalik ceruk leher mu.
Kamu tak dapat lagi berkata-kata bahkan kini terasa sangat tegang ketika nafasnya menderu disekitar area dada mu, kedua gundukan itu dapat merasakan nafas Heeseung yang panas, rasanya terjebak tak dapat keluar dari jeratan sang pria.
“Eumh mwah, dia terlihat lucu,”
Kamu sudah tak dapat lagi berkata-kata, Heeseung mencium belah dada mu, bibir yang sama yang selalu saja bersikap disiplin dan penuh wawasan luas itu, mendarat tepat didada mu yang masih malu-malu timbul dari bagian leher baju yang kamu pakai.
“Pa?... jangan nakutin ah,” ucap mu yang sebenarnya sudah terlampau takut, tapi juga tak mau beranjak karena persetan seluruh norma hidup, kamu mencintai Heeseung dan itu faktanya.
Apa pun yang kamu milikki, kamu pasti akan memberikan segalanya untuknya, “gak boleh ya?, yahh...” pandangan sedih lengkap dengan wajah murungnya terlihat begitu manis, tetapi permintaan yang dia mau justru membuat kamu bimbang.
Pada akhirnya kamu mencoba untuk memahami Heeseung, kamu menangkup wajahnya dan mendaratkan satu kecupan di pipinya. “Daddy yang ganteng ini mau apa emangnya?” tanya mu lemah lembut.
“Eum... i-ini,”
Dia menujuk dada mu, dan pandangannya benar-benar menatap kearah sana tanpa jedah.




gw butuh lanjutannya sekarang juga 😭🙏
Sebentar. Mau salto dulu 😭😘