" Papa Muda 14 "
Lerai kecupannya tapi tidak dengan tatapan kalian berdua, saat-saat seperti ini lah suasana canggung mulai merambat. Menjalar bagai lingkup penuh pencitraan.
Tapi sebagai yang lebih tua Heeseung menengahi segalanya, "maaf ya?... seharusnya saya tidak melakukan itu. Saya memang bukan papa yang baik untuk kamu," melerai segalanya, kamu dapat melihat Heeseung merasa bersalah.
Hati mu terbagi menjadi dua, antara rasa bahagia atau pula penyesalan, disatu sisi perasaan mu dapat berbalas jua tapi disisi lain kamu tak yakin akan bisa melanjutkan hari esok tanpa adanya kecanggungan.
"Engga, ini salah ku pa. Harusnya aku gak boleh punya perasaan kayak gitu, tapi... tapi aku gak bisa nahannya,"
Mata mu mulai berkaca-kaca ada inti yang pecah dalam hati mu, kamu merasa sangat takut kehilangan sosok Heeseung. "Saya juga, rasanya setiap kali berada di dekat mu, saya merasa hangat, menjadi lebih hidup dan bahagia. Apa saya terlihat seperti bajingan malam ini?, saya sulit menahan keinginan saya terhadap kamu,"
Komunikasi yang baik mungkin akan jadi solusi bagi dilema kalian berdua, "papa tetap berkesan dimata ku, selalu terlihat sempurna. Yang aku tidak tau, apa ciuman itu karena aku anak yang manis atau gadis yang papa sukai?..." ayat tanya mu mengetuk hati Heeseung, relungnya terus mengatakan kamu, tapi pemikirannya soal tanggung jawab itu selalu membuat dia ragu.
"Mungkin setelah ini saya akan datang kemakam ayah mu, dan meminta maaf padanya. Karena saya telah menatap kamu sebagai seorang gadis, bukan seorang anak,"
Dia mendekat, menyingkapkan rambut mu yang menutupi wajah, "a-ayah?, papa tau ayah ku?" kamu bertanya terkejut, karena ini semua diluar dugaan.
"Iya, saya datang bukan kerena benar-benar ingin menikahi mama mu, tapi saya datang untuk melindungi kamu. Saya tau betul seperti apa ayah mu, dia berjasa banyak dikehidupan saya sewaktu muda, maka dari itu saya ingin membalasnya dengan menggantikan sosoknya untuk kamu,"
Mendengar segala pejelasan itu, kamu terdiam, tak mampu berkata-kata. Kamu pikir selama ini ayah mu yang tua itu tidak peduli dengan mu, kalian bahkan tidak punya ikatan batin yang dekat, tetapi ternyata dia lebih dari pada sayang, hanya saja tak punya banyak waktu untuk mengungkapkannya.
"Dan sekarang saya gagal..."
"Engga papa, dari papa aku bisa ngerasain kasih sayang, rasanya diperhatikan, dan didukung. Papa jangan pergi seperti ayah, aku gak mau,"
Menggeleng kuat air mata mu berlinang, kamu memeluk erat pria itu, sosok yang tidak tau apakah sekarang masih bisa kamu panggil papa atau tidak. Dia juga membalas perlakuan yang sama, mengusap surai mu begitu lembut, juga punggung mu.
"Tapi apa mungkin seseorang seperti saya bisa menjaga mu dengan baik?" sekokohnya tembok seorang pria, dia tetaplah pria sejati yang punya hasrat dan keinginan tertentu, bahkan pandangannya pun tak luput dari apa yang ia incar.
"Selama ini papa selalu menjaga ku, hanya diri ku gadis yang nakal, menggoda pria duda yang sepertinya memang kurang kasih sayang..."
Tak dapat mengelak karena itu kenyataannya, Heeseung merasa malu, tapi dia tetap tidak bisa menyembunyikan fakta itu. Dia memang seorang pria yang kesepian, tidak pernah merasakan cinta atau pula hangatnya dari seorang pasangan.
"Dan kamu berhasil membuat saya terpedaya, kamu terlalu cantik untuk direlakan sayang. Saya lebih memilih menjadi terpidana, dari pada harus melepaskan kamu,"
Manis setiap bait ucapannya, kamu tersipu dalam pangkuan Heeseung, pria itu benar-benar punya auranya sendiri untuk memikat lawan jenis. "Ihh gombalannya, baru tau kalau om-om gombalinnya kayak gitu, serem ah," kamu mencoba untuk kabur darinya dengan turun dari pangkuan.
Heeseung terkekeh melihat kamu mengejeknya, tapi dia tetap cekatan menahan diri mu untuk tidak menjauh, "boleh tidak, saya inginkan kamu tidur disini malam ini?" entah itu sebuah pertanyaan atau ajakan tersirat, jantung mu saat ini sudah berdegup begitu kencang.
"Eum... bo-boleh,"
Mendapat anggukan dari mu, Heeseung tersenyum. Anggaplah malam ini dia mabuk, mabuk hingga kesadarannya hilang, karena sedikit saja Heeseung ingin egois, dia juga menginginkan malam yang hangat seperti kebanyakan pria seusianya.
Lembut ia menarik pinggul mu lebih dekat, lalu membawa mu dalam gendongannya dan menidurkan kamu diranjang yang sama. Kamu dapat melihat wajahnya yang tampan dari bawah sini dan dia juga dapat menyaksikan gadis kecilnya dari atas sana.
"Sepertinya saya sudah gila, saya ingin mencium mu lagi,"
Ucapnya berterus terang, kamu diam tak mengelak, justru tatapan manis mu semakin gencar menggodanya. "Berhenti memberi saya tatapan itu," ujarnya tajam dan kamu tersenyum.
"Mengapa?, apakah seorang tuan Lee Heeseung tidak bisa menahan dirinya?, ataukah ia memang sudah runtuh sedari tadi?"
Ucapan mu memang tepat sasaran, "saya harap kamu tidak menyesali ini cantik... eumh," ciuman panas kembali membara bagai nyala api yang berkobar, kali ini kalian bisa lebih menikmatinya.
Desiran dingin dari langit malam tak mampu menetralkan suasana panas diatas ranjang tuan Lee, kamu akan benar-benar menjadi miliknya, lewat pungutan-pungutan sensual yang tertaut dari kedua bibir kalian.
"Umphh dad β!"
Sungguh rasanya tubuh mu bagai digerayangi oleh nafsu yang membara, sisi dominan Heeseung benar-benar terasa kuat, kamu seolah tunduk dalam kukungannya menyerahkan segela yang kamu punya pada kuasa pria matang satu ini.
"Much... ennhh," kedua lengannya memenjarakan kepala mu, menahan wajah mu untuk tetap menciumnya lebih dalam, lidahnya pun tak tinggal diam, masuk melalui cela-cela sempit dalam rongga mu, sampai saliva kalian berdua saling bertukar.
Sebelum-sebelumnya Heeseung tidak pernah merasakan gairah setinggi ini ketika berhadapan dengan seorang wanita, tapi dengan mu akal sehatnya bagai terkikis, sampai rasanya dia ingin bercumbu hingga pagi.
"Owhh sayang, engh eumph..."
Suara kecapan bibir tipisnya begitu menggoda, menggelora dalam sepetak ruang hampa hingga ke lubuk hati mu, kamu bahkan sampai menahan dadanya karena gairah yang tak bisa Heeseung tahan lagi.
"Umphh dad.... s-stophh β!!"
Kamu mulai kehilangan nafas sedikit demi sedikit karena ciuman Heeseung yang begitu dalam, hingga bahkan kanu bergerak gelisah, menggenggam lengan kokohnya atau pula menepuk dadanya.
Diantara pergerakan itu kaki di bahwa sana juga ikut tak bisa diam, karena sensasi ini terlalu intim untuk kamu yang tidak berpengalaman, "ah ha'aah..." kamu meraup nafas sebanyak mungkin saat ciuman itu lerai.
"A'ah jangan ditendang sayang, kakinya jangan nakal," peringatan datang dari Heeseung kamu tidak sengaja menendang kejantanannya dari bawah sana disaat-saat ciuman panas kalian.
Kamu yang baru sadar melihat kebawah sana, hanya sekelebat tetapi kamu dapat melihat sesuatu yang menonjol dari balik celana Heeseung, hingga rasanya untuk menelan saliva pun serat.
"Ma-maaf pa, a-aku... aku gak sengaja,"
Kamu buru-buru membenarkan bahwa itu bukan tindakan yang disengaja, "iya cantik, tak masalah. Saya masih bisa menahannya," ungkapan itu membuat kamu merasa bersalah karena telah membuat Heeseung merasa tersiksa hingga sejauh ini.
"Memang gapapa itu pa?, kata Sunghoon titit cowok itu bisa marah kalau disenggol, emang kalau dia marah bagaimana?"
Tatapan polos mu dengan pertanyaan yang konyol membuat Heeseung malah semakin tersiksa, "duh astaga... diem ya mulutnya, gak boleh ngomong jorok begitu, papa gak suka. Papa hukum kamu kalau ngomong gitu lagi," tegasnya pada mu karena telah mengucapkan kata terlarang itu.
Dengan lucunya kamu buru-buru menutup mulut mu, seolah benar-benar takut oleh hukuman yang akan Heeseung berikan, "i-iya papa, janji gak ngomong titit lagi," dan ya kamu mengulanginya sampai rasanya Heeseung sangat frustasi.
"Sayanggg... denger papa bilang apa?"
"I-iya pa, maaf. Jangan marah dong,"
"Hm, sekarang bobo besok sekolah nanti kamu telat,"
Ucapnya seraya berbenah diri, dia juga membetulkan pakaian mu yang sempat melorot berulang kali karena memang pakaian itu bukan ukuran yang pas untuk tubuh mu yang mungil.
"Ini talinya melorot terus sayang, bahaya banget kalau keliatan. Dengerin papa ya, kalau keluar jangan pakai baju begini..."
"Kalo cuma berdua sama papa?, boleh gitu?" Lagi-lagi kamu mengerjai Heeseung, melihat telinganya yang memerah itu sangatlah lucu.
"G-gak boleh sebenarnya, tapi berhubung kamu milik papa, jadi saya rasa tidak masalah,"
Senyum miringnya terlihat asing, namun justru itulah sifat asli Lee Heeseung terlepas dari citranya sebagai seorang papa. Kamu juga tersenyum malu-malu karena melihat Heeseung begitu berminat pada diri mu.
Dia pun mengambil tidur disamping mu, hendak menarik selimut tetapi justru kamu yang tak bisa tidur, rasa kantuk mu hilang ditelan suasana kacau malam ini. Rasanya kamu hanya ingin menghabiskan waktu mu bermanja dengan pria ini.
"Eum gak mau bobonya gini,"
"Kenapa sayang?, mau apa cantiknya papa?"
Heeseung yang masih tersadar, mengusap belah pipi mu yang cemberut, "mau bobo diatas papa, boleh yaa?" kamu memohon begitu lucu, sampai rasanya Heeseung lupa cara bernafas.
"Boleh cantik, naik sini sayang..."
Dengan mudahnya Heeseung mengangkat tubuh mu ketasanya, disanalah kamu dapat tertidur lelap, beralaskan dada bidang seorang Lee Heeseung, dengan tangan kokohnya yang setia memelukmu.
Terasa begitu hangat dan nyaman, jantung pria itu dapat kamu dengar dengan jelas, sebuah debaran yang mampu membuat kamu tersenyum setiap saat. "Daddy, i love you," kamu berbisik manis tepat pada telinga Heeseung yang memerah.
"Hentikan godaan mu gadis nakal, kita bisa masuk dalam zona berbahaya jika kamu tidak mendengarkan. Kamu tidak mau kan tertatih-tatih saat berjalan?"
"Hng!"
***
Pagi menelusup begitu cepat, merayap pada setiap jengkal ruang kamar Heeseung yang berantakan, kamu masih dengan dress minim itu sedangkan Heeseung tiba-tiba saja sudah berganti celana.
Kamu tidak tau yang pastinya kapan, tetapi saat ini pria itu hanya menggunakan celana pendek.
"Papa bangun, sudah pagi," ucap mu mencoba menggerakkan tubuh Heeseung untuk sadar dari tidur lelapnya.
Biasanya pria itu siap begitu cepat tapi pagi ini dia terlihat sangat mengantuk, "ah?, sudah pagi ya?... yaampun papa tidurnya nyenyak banget ini, ayo sayang siap-siap nanti kamu terlambat lagi," kamu mengangguk, kalian bersiap masing-masing dan kembali bertemu di ruang tamu.
"Maaf ya sayang papa gak sempet siapin sarapan pagi ini, papa cuma transfer uang saku kamu. Kalau kurang nanti bilang papa ya, cantik?"
Kamu mengangguk, "iya pa, aku hemat kok jadi gak mungkin uangnya cepet habis," mendengar jawaban mu, Heeseung tersenyum.
"Pinternya princess papa, ayo berangkat,"
Kalian berangkat seperti biasanya, bersama-sama namun kali ini cukup berbeda karena ada perasaan yang tengah berbunga-bunga. Saat sampai Heeseung menahan lengan mu sebelum kamu hendak berlalu.
"Gak cium papanya dulu ini?"
"Mwah ~... dadah papa!"
Satu kecupan manis di pipinya benar-benar cukup untuk menghiasi pagi Heeseung dengan debaran yang tak bisa ia jelaskan.
***
Sampai di kantor ruangan itu sepi, hari ini memang tidak ada jadwal pertemuan penting, hanya perlu menandatangani beberapa berkas saja.
Tapi saat ini fokus Heeseung benar-benar tercampur aduk, antara pekerjaan dengan sensasi yang tadi malam ia rasakan. Sesaat benaknya kembali mengingat hal gila yang semalam dia lakukan dikamar mandi.
"Saya tidak menyangka hormonal saya meningkat begitu tajam, apa saya perlu konsul ke Dokter soal hal ini?... apa karena umur ya?"
Heeseung takut bila dia akan kehilangan gairah seksualnya karena terlalu lama sendiri, itu cukup fatal bagi seorang pria, bisa saja dia tidak bisa merasakan kepuasan atau pula seperma yang diproduksi bisa berkualitas buruk, alias tidak berbenih.
Bayang-bayang soal apa yang dia lakukan semalam kembali berputar dalam benak Heeseung, setelah kamu tertidur dia kembali menatap mu, jenis tatapan yang begitu berbeda dengan dirinya yang biasa kamu tau.
Ada dibeberapa titik Heeseung ingin kembali mengeryangi tubuh mu karena saat ini dirinya benar-benar masuk pada tahap rangsangan. "Ah tidak, saya tidak boleh melakukan itu padanya. Tuntaskan ini semua dengan cepat Heeseung, kau tidak boleh melampiaskannya pada gadis ini,"
Bermonolog ia seorang diri, demi menahan hasratnya terhadap kamu. Perlahan Heeseung memindahkan tubuh mu berbaring diatas kasur, sedangkan ia beranjak masuk kekamar mandi.
Bahkan untuk sekedar melangkah rasanya begitu sulit, sesuatu yang tegang dibawah sana telah menjerat kewarasan Heeseung hingga pada titik yang sangat fatal. Ketika dia menurunkan celananya benda itu baru bisa bernafas lega.
"U'uhh ini sungguh menyakitkan,"
Rasanya frustasi, sungguh Heeseung tidak pernah merasa tertekan seperti ini, tanpa pikir panjang dia duduk diatas kloset yang tertutup. Mulai memijat kejantanannya sendiri, mengocok batang berurat tegang itu dengan sangat cepat.
Secepat hasratnya yang membara, "a'ahh uhh bajingan, saya tidak bisa menahannya lagi," umpatnya kesal pada ke kenyataan dimana dia juga seorang pria yang punya hasrat dan nafsu yang tinggi.
Kocokan itu berangsur begitu cepat, hentakannya juga kuat demi menggapai pelepasan dan menghilangkan rasa gelisah ini, malam itu didalam sepetak kamar mandi, lenguhan Heeseung beradu dengan suara kecipak basah dari kejantanannya yang menegang.
"Ahh, oh fuck!... haa'aah sshh sialan!, saya benar-benar gila malam ini,"
Nafasnya terengah-engah dengan keringat yang bercucuran, matanya yang sayu, juga surainya yang berantakan terlihat begitu mengesankan. Heeseung benar-benar pria yang panas, jika kamu dapat melihat betapa panasnya tubuh pria itu saat ini, kamu pun tak yakin apakah bisa lolos darinya atau tidak.
Kejantanannya yang siap kini mulai menemukan kenikmatan walau hanya sekedar kecokan singkat, bagian uretranya berkedut tak karuan berusaha mengeluarkan cairan dari sana.
Heeseung terus mempercepat tempo kocokannya, mengejar nikmatnya pelepasan, bahkan sampai benda tumpul itu menimbulkan ruam kemerahan. Terlihat sungguh menawan dan perkasa ketika miliknya menyemburkan cairan lengket itu.
"A'akh!... ugghh yeah, cantik harusnya cairan ini jadi milik mu, tetapi saya harus membuangnya sendiri..."
"... mungkin suatu saat saya bisa meletakannya dalam perut mu... haa'ah! owhh damn,"
Racaunya dikala pelepasan, hingga akhirnya Heeseung menemukan kata lega, dan dia benar-benar mengeluarkan begitu banyak cairan dari tubuhnya.
Itulah pejelasan dibalik celana Heeseung yang sudah berganti sewaktu kamu bangun dari tidur mu.
gimana?





Mataku tetap ingin membaca tapi hatiku say astaghfirullah π«’
TOLONG, KAMERA MANA KAMERA MW MELAMBAIKAN TANGAN, DD GK KWADDDDD