Mama Muda 18
Lampu-lampu jalan berdiri redup di beberapa sudut, sementara suara kendaraan dari jalan raya hanya terdengar samar dari kejauhan. Semakin mendekati, hati mu semakin sesak.
Kamu tak pernah membayangkan Evan — anak yang dulu tinggal di rumah besar dengan segala kenyamanan — akan hidup di tempat seperti ini.
Namun Evan justru tampak terbiasa.
Pemuda itu berhenti di depan sebuah pintu kayu sederhana dengan cat yang mulai mengelupas di beberapa bagian. “Ini, tempat tinggalku...” katanya pelan sambil tersenyum kecil.
Evan membuka pintu itu perlahan. Ruangan kecil langsung menyambut mu.
Hanya sepetak kamar dengan sekat tipis menuju kamar mandi kecil di sudut belakang. Sebuah kasur sederhana menempel di dinding, meja belajar penuh buku kuliah, kipas angin tua yang berputar pelan, dan rak kecil berisi beberapa gelas serta piring.
Tidak luas.
Tidak mewah.
Namun terasa hidup.
Kamu berdiri diam beberapa detik, menatap seluruh ruangan itu tanpa suara. Dada mu nyeri membayangkan Evan menjalani hari-harinya di tempat sekecil ini. Sementara Evan justru tersenyum canggung.
“Maaf agak berantakan, mom,” ucap Evan pelan sambil menggaruk tengkuknya malu. “... Aku belum sempat beberes.” sambungnya.
Baru kali ini kamu benar-benar memperhatikan keadaan kamar Evan. Ada pakaian yang belum dilipat, piring kotor di wastafel kecil, buku berserakan di lantai, dan selimut yang terlipat asal.
Namun bukannya marah atau mengeluh, kamu hanya menatap Evan lama dengan mata yang perlahan menghangat. Kemudian mengusap pundak pemuda itu pelan.
“Gapapa sayang, kamu pasti capek” ujar mu lembut.
Pernyataan sederhana itu hampir membuat Evan kehilangan senyumnya. Namun ia buru-buru menggeleng kecil.
“A-aku mandi dulu ya, mom.”
Kamu mengangguk dan saat suara shower mulai terdengar dari balik kamar mandi, kamu diam-diam mulai bergerak.
Tangan mengambil sapu, menyapu lantai perlahan, mencuci piring-piring kotor yang menumpuk. Merapikan buku-buku kuliah Evan, hingga membenahi tempat tidur kecil itu serapi mungkin.
Gerakannya tenang dan terbiasa — seolah selama ini tubuhnya memang sudah hafal bagaimana caranya merawat Evan.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka, Evan keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Namun langkahnya langsung terhenti. Kamar itu sudah berubah. Lebih rapi. Lebih terasa seperti rumah. “Mommy...” Evan menatap mu terkejut, “kenapa malah beberes?, mommy sendiri pasti capek kerja seharian,”
Ada rasa bersalah di wajahnya.Karena ia tahu kekacauan kamar itu lahir dari kelelahan yang terus menumpuk. Kadang ia terlalu lelah bahkan hanya untuk mencuci piring.
Kamu hanya tersenyum lembut. “Justru mommy senang bisa ngurusin kamu lagi.” kalimat itu membuat hati Evan terasa hangat sekaligus nyeri.
Mengingat-ingat kehidupan beberapa tahun yang lalu saya masih bersama mu, “makasih mom, selalu inget aku,” ucapnya tiba-tiba, dalam diam hati mu berdebar.
Karena kamu sudah bersih-bersih, Evan berinisiatif untuk memasak makan malam, “sebentar lagi waktunya makan malam, mommy pasti laperkan?, jadi aku mau masak,” ucapnya bersemangat.
“Duh gak usah sayang, kamu udah capek-capek kerja. Biar mommy aja ya yang masak,” bujuk mu.
Bibirnya berkerucut manis, “tapi aku pengen masakin mommy...” wajah itu berkali-kali lipat manisnya saat sedih.
Nada suara Evan begitu tulus sampai kamu akhirnya menyerah sambil tersenyum kecil. “Okey, tapi kalau kamu perlu bantuan mommy pasti bantu,” kata mu, memastikan agar Evan tidak sungkan meminta bantuan.
Pemuda itu beranjak kedapur, membuka lemari kecil dan mengeluarkan bahan seadanya. ‘Hari ini cuma ada pasta sama roti’ ujarnya dalam hati.
Kamu memperhatikannya dari sudut dekat meja, “kamu emangnya mau masakin mommy apa em?” tanya mu menatap dalam pada Evan.
“Aku punya resep pasta andalan, mom. Sama roti yang tadi dikasih sama manajer cafe,” jelasnya sederhana.
Pemuda itu tampak terbiasa mengurus dirinya sendiri sekarang.
Tangannya cekatan menumis bawang, menuang saus creamy sederhana, lalu merebus pasta dengan gerakan yang sudah hafal di luar kepala.
“Mana sayang rotinya?, biar mommy angetin lagi,”
“Itu mom, dikantong itu,” Evan menunjuk pada paper bag diatas meja mekan, benar itu berisi beberapa potong roti dingin.
Disela menunggu roti kembali hangat didalam kukusan, “manajer tempat kamu kerja baik ya?, suka marahin kamu gak?” tanya mu, hanya untuk memastikan Evan tidak mendapatkan perlakuan buruk selama bekerja disana.
“Baik kok mom, ya kalau aku lakuin kesalahan pasti dia marah dong, masa ngambek kayak mommy,”
Ia tertawa, seolah masih ingat ketika kamu menolak berbicara dengannya hanya kerana kesalahpahaman kecil antara Evan dan Runa.
“Ih kamu tuh ya!, mommy ngambek karena ada alasannya tauk...” kamu menepuk pundaknya, tanpa sadar pipi pun ikut merona.
Begitulah kalian saling melempar senyum, kadang tertawa kecil karena hal-hal sepele.
***
Makanan itu akhirnya matang. Seporsi pasta creamy hangat disajikan bersama roti-roti manis yang dihangatkan ulang di pan kecil. Ditambah soda kaleng dingin. Mungkin sederhana.
Bahkan jauh dari kata bergizi sempurna.
Namun bagi mu, makan malam itu terasa lebih mewah dari hidangan mana pun yang pernah dinikmati.
“Ayo mommy cicipin terus kasih rating dari satu sampai sepuluh berapa enaknya masakan aku,”
Belum sempat menyuap sendiri, Evan sudah lebih dulu memberikan suapan pertama pada mu, “umhh menurut mommy ini sih...” menggantung ketika Evan sangat penasaran.
“Gimana-gimana mom?”
“... sejuta persepuluh!, mommy gak nyangka kamu pinter banget sayang,” di posisi duduk kalian, kamu bisa mengusap pucuk kepala Evan meski tetap saja tubuh pemuda itu lebih tinggi dari mu.
“Serius nih mom?”
“Iya, emang enak. Masa mommy bohong sih,”
Kalian pun menghabiskan semuanya sampai tiada bersisa. Diantar obrolan malam itu, ada beberapa yang mulai terdengar lebih dalam, Evan bersandar pada bahu mu, wajahnya yang teduh, diam sesaat.
“Mommy, gak akan pergi lagi kan?” tanyanya samar-samar, kamu masih dapat mendengarnya jelas.
Diusap lembut belah pipinya, seolah melihat waktu yang terus berlalu cepat, “engga, kalau kamu mau...” jawab mu singkat, membiarkan Evan bersandar.
“Aku kangen mommy, aku udah gak peduli aku anaknya siapa, lahir dihubungan yang seperti apa, dan punya ikatan sama siapa aja. Yang aku butuhin cuma mommy,”
Didalam hati mu seolah badai sedang datang dan rintik hujan membasahi segalanya, saat diluar sana gemuruh hujan juga mulai bersaut-sautan. “Maaf ya sayang, kamu jadi harus hadapi semua ini, gara-gara masalalu mommy,”
“Gak, ini bukan salah mommy, justru mommy lah pihak yang paling terluka. Lepas kejadian itu, aku gak mau lagi berharap sama siapa pun mom, kata keluarga hanya berarti ketika bersama mommy,”
Setiap ucapannya begitu menyentuh, hatimu enyuh sudah, kini hanya mencoba menahan agar tirta tidak mengalir dari lerengnya, “iya sayang, iya... mommy akan selalu ada untuk kamu,” ucap mu, menarik pemuda itu dalam dekapan hangat mu.
Ini terasa seperti mimpi dikepala Evan, membayangkan kamu pulang, bertemunya, hingga duduk untuk merasakan pelukan hangat mu lagi.
***
“Mommy pulang ya.”
Senyum Evan langsung memudar sedikit. “Pulang sekarang?” tanyanya pelan.
“Iya, masa mommy tidur disini, kan gak muat sayang,”
Kamu melirik kasur kecil di sudut kamar itu. Kasur sempit yang jelas hanya cukup untuk satu orang. Namun, Evan buru-buru mencari alasan.
“A-aku bisa tidur di sofa kok.”
Kamu langsung tertawa pelan. “Kamu pikir mommy tega?”
“Aku serius...”
Tatapan Evan membuat mu akhirnya sadar. Pemuda itu memang tidak ingin ia pergi lagi. Ada rasa takut kehilangan yang masih tertinggal di matanya.
Dan hati mu langsung melembut.
“Aduh...” kamu sengaja mendekat sambil menggoda kecil, “jadi sebenarnya ada yang nggak rela mommy pulang ya?”
“Nggak gitu—”
“Telinganya merah, tuh”
“Mom...”
“Iya, bayi kecil. Jangan menangis...” kini kamu puas menertawakan pipinya yang merah padam.
“Aish... aku bukan anak kecil lagi mom, aku udah dewasa!”
Dan malam itu pun berakhir dengan kalian duduk berdampingan di sofa kecil sempit itu.
Berbicara tentang banyak hal.
Tentang luka.
Tentang rindu.
Tentang tahun-tahun yang hilang.
Sampai akhirnya rasa lelah mengalahkan segalanya. Tanpa sadar, kepala Evan bersandar pelan di bahu mu.
Sementara kamu juga menyandarkan kepala di atas rambut pemuda itu sambil memejamkan mata.
Dan di tengah kamar kost kecil yang sederhana — kalian akhirnya tertidur bersama. Bukan sebagai dua orang yang saling kehilangan lagi. Melainkan sebagai rumah yang akhirnya kembali menemukan jalannya pulang.
***
“Morning sayang~”
“Umh?!”
Eo : maaf ya, eo sakit terus dan banyak tugas, terimakasih banyak ya, i love you, mwaa mwaa hehe… lariiiiii…





aku suka cara kamu nulis detail kecilnya ihh, jadi kerasa hidup banget suasananya.. terimakasih yaa eoo sudah up, cepat sembuhh 🤏🏻
cepet sembuh eo ganteng, sayang kamu mwaah