Mama Muda 16
Semburat senja menggantung kelabu di atas rumah besar itu, seolah turut menahan napas bersama segala rahasia yang sebentar lagi terkuak. Kamu berdiri di ruang tamu dengan jemari saling menggenggam erat, sementara di hadapan, Jay — berdiri dengan sorot mata yang tak lagi kamu kenali.
“Jangan membuang-buang waktu, ku.”
“Aku datang bukan tanpa alasan,” ujar Jay pelan, namun tegas.
Dari dalam map cokelat yang dibawanya, ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan sebuah foto lama yang mulai menguning di sudutnya. “Evan… bukan sekadar anak yang kamu adopsi.”
Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong. Kamu mengernyit, napas pun tercekat. “Apa maksudmu?”
Jay melangkah mendekat, menyerahkan dokumen itu. “Dia anak kandungku. Hasil hubungan… waktu aku masih SMA. Dengan Jiya.”
Nama itu — Jiya. Seketika terasa asing, namun cukup tajam untuk melukai.
Dunia mu seakan berhenti berputar. Mata membaca, tapi hati menolak memahami. Bukti-bukti itu terlalu nyata untuk disangkal — akta kelahiran, hasil tes DNA, foto Jay muda bersama seorang gadis yang tersenyum samar.
“Ti-tidak… ini tidak mungkin!” berbisik lirih, tubuh mu mulai bergetar.
Di sudut ruangan, Evan berdiri terpaku. Bocah yang selama ini kamu rangkul, kini menatap dua orang dewasa ini dengan kebingungan yang mengiris hati. “Mommy?...” suaranya pelan, ragu.
Kamu menoleh. Tatapan kalian bertemu —dan dalam sekejap, semua yang ia rasakan runtuh. Cinta, kepercayaan, kenyamanan... semuanya retak oleh kenyataan yang tak pernah ia bayangkan.
“Tidak... dialah seluruh hidupku...” suara mu pecah, air mata mengalir tanpa dapat dibendung. “Kenapa kau baru datang sekarang, Jay?! —”
“Selama ini berani sekali kau membohongi ku!, dan kau bahkan tidak peduli saat anak itu hidup sendirian!!”
Jay menarik napas panjang, mencoba terlihat meyakinkan. “Karena sekarang aku tahu dan aku mau memperbaiki semuanya. Kita bisa mulai lagi semuanya dari awal. Demi Evan. Dia pasti ingin punya papa... apalagi kalau itu papa kandungnya.”
Kata-kata itu terdengar seperti bujukan, namun entah mengapa terasa dingin dan kosong. “... Evan. Nak, kamu pasti kangen papa kan?”
Kamu menggeleng cepat. Kepala mu terasa penuh, sesak oleh ribuan pikiran yang bertabrakan. Mengambil langkah mundur, seolah menjauh dari kenyataan itu sendiri.
“Cukup!!”
“... pak Anto!” panggilmu dengan suara bergetar.
Seorang pria paruh baya segera muncul dari arah koridor. “Ya, nyonya?”
“Tolong... suruh orang ini pergi. Sekarang!”
Tak ada lagi yang bisa menahannya, kamu berbalik dan berlari menuju kamar. Langkah mu tergesa, napas tersengal, hingga akhirnya mengunci diri di dalam, bersandar di balik pintu yang kini menjadi satu-satunya penghalang antara diri mu dan dunia yang tiba-tiba terasa asing.
Tangis mu pecah.
Di luar, Evan berlari menyusul. “Mom! mommy, buka pintunya!” tangannya mengetuk cepat, penuh cemas. “Mom, aku di sini…”
Namun tak ada jawaban. Hanya isak tangis yang samar terdengar dari dalam.
Evan menunduk, dadanya terasa sesak. Pikirannya kacau. Kata-kata Jay terus terngiang di kepalanya.
‘Ayah kandung, apa itu benar?’
Apakah selama ini hidupnya adalah kebohongan?
Di sisi lain, Jay berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak tenang — terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan dunia orang lain. Pak Anto menatapnya dengan tegas, memberi isyarat agar ia segera pergi.
“Tolong pergi pak!”
Tanpa banyak kata, Jay berbalik dan melangkah keluar dari rumah itu.
Namun sebelum mobilnya benar-benar menjauh, ia mengeluarkan ponselnya. Jemarinya bergerak cepat, mengetik sebuah pesan.
Pesan itu terkirim.
Tak ada keraguan. Tak ada penyesalan. Karena bagi Jay, ini bukan tentang cinta, bukan tentang keluarga, melainkan tentang kehidupan lama yang ingin ia rebut kembali — kemewahan yang pernah ia rasakan, dan kini ia lihat lagi... dalam hidup mu.
***
Malam ini kamar mu dipenuhi sunyi yang menyesakkan. Tirai jendela tak sepenuhnya tertutup, membiarkan cahaya bulan merayap masuk, jatuh pucat di lantai marmer yang dingin. Di atas ranjang, kamu terduduk dengan tubuh gemetar, ponsel masih tergenggam di tangan.
Pesan dari Jay.
Kalimat itu seperti duri yang terus menusuk tanpa henti. Kamu memejamkan mata, namun bayangan wajah Evan — senyum polosnya, suara lembutnya memanggil ‘Mommy’ — justru semakin jelas.
“Tidak bisa...” bisikmu lirih. “Saya tidak bisa kehilangan dia…”
Namun di saat yang sama, luka lama kembali terbuka. Perceraian itu, pengkhianatan itu, kenyataan bahwa anak yang selama ini kamu cintai sepenuh hati ternyata lahir dari masa lalu Jay yang kotor — semuanya berputar tanpa henti di kepalanya.
Cinta dan kecewa bertabrakan, menghancurkan hati mu dari dalam.
***
Di lantai atas, Evan duduk di sudut kamarnya. Lampu tidak dinyalakan, hanya gelap yang menemani. Ia memeluk lututnya, menatap kosong ke arah jendela. Evan juga melewatkan makan malam.
Kata-kata Jay terus terngiang di benaknya.
Ayah kandung.
‘Seharusnya itu menjadi kabar yang membahagiakan... bukan?’
Namun yang ia rasakan justru ketakutan.
Karena ia tahu, dari cara Jay menatapnya, dari nada suaranya — tidak ada kehangatan seorang ayah di sana. Hanya ambisi. Hanya sesuatu yang ingin dimiliki.
“Yang aku mau cuma, mommy...” gumam Evan pelan, suaranya pecah dalam sepi.
Rumah besar itu, yang biasanya hangat oleh tawa dan percakapan kecil, malam itu berubah menjadi ruang kosong yang dingin. Setiap sudutnya dipenuhi tanda tanya, luka, dan kekecewaan yang tak terucapkan.
***
Tepat tengah malam, kamu berdiri di depan cermin. Wajah pucat, mata sembab. Kamu menatap diri mu sendiri lama, seolah mencoba menemukan jawaban yang tak pernah datang.
Lalu, dengan tangan gemetar, kamu mengambil koper. Keputusan itu akhirnya lahir dari kelelahan yang terlalu dalam.
Kamu tidak sanggup menghadapi Jay.
Kamu tidak sanggup kehilangan Evan.
Namun lebih dari itu, kamu tidak sanggup menghadapi diri mu sendiri. “Maafkan mommy...” bisik mu, seolah Evan bisa mendengarnya dari balik dinding.
Sebelum pergi, kamu menuliskan sebuah pesan di secarik kertas. Berjalan pelan menuju kamar Evan, menempelkannya di pintu, lalu menyentuh gagang pintu itu sebentar — ragu, berat, hampir membuka... namun akhirnya tidak.
Kamu pun pergi tanpa suara.
Meninggalkan rumah itu.
Meninggalkan segalanya.
Menuju negeri yang jauh — China — tempat kamu berharap bisa melarikan diri dari rasa sakit yang membelenggu.
***
Pagi datang tanpa kehangatan.
Evan membuka pintu kamarnya dengan langkah pelan. Matanya sembab, wajahnya pucat karena semalaman hampir tak tidur. Pandangannya jatuh pada secarik kertas yang menempel di pintu.
Tangannya gemetar saat membacanya.
Saya pergi untuk menenangkan diri. Kamu boleh tetap tinggal di rumah ini, Evan. Jangan pernah membawa Jay masuk. Semua kebutuhanmu akan saya tanggung.
Tak ada kata ‘sayang’. Tak ada janji kapan akan kembali. Hanya perpisahan yang terasa… terlalu dingin.
“Mommy...” Evan berlari ke kamar mu. Disana kosong.
Ia menyusuri setiap sudut rumah, memanggil dengan suara yang semakin lama semakin parau.
“Mommy!, mommy jangan tinggalin Evan!!”
Kamu benar-benar telah pergi.
Ia mencoba menelepon — sekali, dua kali, berkali-kali. Nomor itu tidak aktif.
Saat itulah, untuk pertama kalinya, Evan merasa benar-benar sendirian.
Tangisnya pecah.
Hari-hari setelahnya berjalan tanpa warna. Pagi itu, Evan berangkat sekolah hanya ditemani Pak Anto. Tak ada sarapan hangat. Tak ada senyum lembut yang biasa menyapanya.
Hanya diam.
Dan kehilangan.
***
Disekolah Evan masih menujukan wajah suram, tidak tampak seperti dia biasanya. Runa menyadari hal itu, ketika jam menujukan pukul dua belas, waktu disaat semua siswa-siswi beristirahat.
“Eh van, yok kekantin,” ajak Runa, disaat pemuda itu hanya termenung seorang diri.
Dia tak berkutik, hanya menggeleng sirah, “... loh kenapa?, lo kayak sedih gitu, lagi ada masalah ya?” pertanyaan Runa tak digubris, Evan hanya menundukkan kepala berpangku pada lengannya diatas meja.
Runa paham, mungkin saja Evan sedang butuh waktu sendiri.
Gadis itu pergi kekantin, memakan makan siangnya lalu membeli sebatang coklat untuk ia bawa ke kelas. Sekembalinya, ia masih mendapati Evan termenung ditempat duduknya, seorang diri.
Runa menghampiri, “nih buat lo, tenang aja mereknya yang mahal, cocok dilidah orkay. Mumpung gua baik, jadi gratis,” dia menyelipkan sebatang coklat itu disaku baju Evan.
Pemuda itu hanya menatapnya sesaat, kemudian kembali berpaling, “aku gak laper,” jawabannya singkat.
“Gak usah boong, muka lo aja pucet kayak gitu. Cerita aja sih napa, gua kan gak cepu orangnya,”
Kata Runa ceplas-ceplos, sedangkan Evan yang berada di fase terhancurnya saat ini. “Kangen mommy,” cicitnya kecil.
Runa menghela nafas, “yaelah sekolah kita gak nyampe malem kalik, emang nyokap lo sesibuk apa sih sampai anak manjanya merana begini,”
“Bukan gitu..,”
“Terus apa?, masa iya gua suka cerita sama lo, lo gak mau cerita sama gua,”
Akhirnya di ruang kelas yang hanya ada mereka berdua disana, Evan menceritakan semuanya, kesedihannya tumpah ruah siang itu.
Runa juga ikut syok mendengarnya, dia sadar kali ini masalah yang Evan hadapi cukup serius, “pantes aja lo sampai sedih begini, jadi sekarang lo bener-bener putus koneksi sama nyokap lo?”
“Iya, Ra...”
“Yaampun Evan, gua ikut sedih ya. Tapi kayaknya orang dewasa emang butuh waktu sendiri untuk tenang, sementara waktu saran gua lo kasih waktu deh buat nyokap lo,”
Saran dari Runa juga masuk akal, pasti ini bukan hal yang mudah bagi mu, dan butuh banyak waktu untuk menerima semuanya.
***
Sementara itu, Jay menunggu. Dia yakin kamu akan menyerah dan akan kembali.
Namun hari demi hari berlalu tanpa kabar. Ketika ia mencoba menghubungi, nomor mu sudah tidak bisa dijangkau.
“BRENSEK!!”
Amarahnya meledak.
Dia mendatangi rumah itu lagi — rumah yang dulu hampir menjadi miliknya. Tapi kini, penjagaan diperketat. Pak Anto dan beberapa petugas lain berdiri tegas di depan gerbang, menahan setiap langkah Jay.
“Maaf, Tuan tidak diperkenankan masuk,” ujar mereka dingin.
“Di dalam hanya ada Evan. Dan nyonya melarang anda masuk!”
Jay mengepalkan jari-jemarinya kuat-kuat. “Panggil Evan!” dari dalam, Evan hanya berdiri jauh di balik jendela. Ia melihat, tapi tidak mendekat.
“... keluar kamu, anak sialan!!”
Ia tahu.
Jay bukan datang sebagai ayah.
Melainkan sebagai ancaman.
***
Jay tak menyerah. Ia mencoba berbagai cara untuk merebut Evan — ancaman, tekanan, bahkan jalur hukum.
Namun semuanya sia-sia.
Karena tanpa sepengetahuannya, kamu telah lebih dulu memastikan segalanya. Dokumen adopsi resmi, perlindungan hukum, semuanya telah disiapkan dengan rapi.
Hingga suatu hari, sebuah surat misterius tiba di tangan Jay. Isinya singkat, namun cukup untuk membuatnya terdiam.
Jika anda terus memaksa, proses hukum akan ditempuh. Penelantaran anak bisa menjadi awal dari kehancuran mu.
“BEDEBAH!... sial, sial, SIAL!!”
Untuk pertama kalinya, Jay merasakan sesuatu yang lebih kuat dari amarah — ketakutan. Namun semuanya sudah terlambat.
Utang-utang yang ia abaikan mulai menagih. Satu per satu asetnya disita. Telepon tak pernah berhenti berdering — dari kreditur, dari penagih, dari masa lalu yang kini mengejarnya tanpa ampun.
Hidup yang dulu ia bayangkan kembali, justru berubah menjadi jurang kehancuran.
Dan perlahan, nama Jay menghilang.
Tak ada lagi kabar. Tak ada lagi ancaman.
Seolah ia lenyap ditelan gelap.
***
Di tempat yang jauh, di negeri asing yang dingin, kamu menatap langit yang berbeda.
Namun satu hal tetap sama. Rasa rindu yang tak pernah pergi.
Dan sebuah nama… yang terus hidup di dalam hati mu.
Evan.
eo : balu bisa up, hali hali capek manett, semoga kamu thukaa, oh ya kalau mau req one-shot bisa ke eo ya. hehe lumayan buat tutu illoo… babay, sampai ketemu agiii 👋🏻




terimakasii sudah up, eoo 🥹. sama ituu y/n jangan lama lama pls perginya, aku yang nangis soalnya
sayang evan sayang mas theo